Arsip untuk kategori ‘Kebangkitan’
Menuju Kematangan Kebangkitan Islam (langkah ke-10)
Dari Ikhtilaf dan Perpecahan Menuju Persatuan dan Solidaritas
Permasalahan terbesar yang saat ini menggerogoti tubuh gerakan kebangkitan Islam, hingga menghambat langkah dan geraknya sebenarnya berasal dari dalam umat Islam sendiri. Yakni, tidak ada komunikasi dan sinergi antar kelompok pergerakan itu. Bahkan yang terjadi adalah pertarungan, pertengkaran, perpecahan, saling mencurigai bahkan saling menghancurkan.
Hadits Nabi SAW: ”Kalian telah dirasuki penyakit komunal semua bangsa, yaitu kedengkian dan kebencian. Kebencian itu bisa diumpamakan sebagai pisau cukur, yang bukan hanya mencukur rambut sampai plontos; tapi lebih dari itu, juga membabat habis agama ini.”
Sebab-sebab ketidakharmonisan hubungan antar faksi gerakan Islam:
- Tidak ada hubungan saling mengenal; tak kenal maka tak sayang
- Sifat takabbur, dan membanggakan diri/kelompoknya serta menganggap orang/kelompok lain pasti salah
- Buruk sangka
- Hati yang tidak lapang menerima perbedaan
- Terpengarus provokasi pihak luar yang ingin memecah belah umat Islam.
Menuju Kematangan Kebangkitan Islam (langkah ke-9)
Dari Kekerasan dan Kebencian Menuju Kelemahlembutan dan Rahmat
Allah SWT berfirman:”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An Nahl: 125)
Ingatlah sikap Nabi SAW kepada seseorang yang kencing di dalam masjid!
Rahmat dalam situasi perang:
- dilarang membunuh orang yang tua, wanita, anak-anak, dan budak
- dilarang berkhianat, melanggar perjanjian, dan membunuh dengan sadis
- dilarang membunuh para pendeta di dalam tempat peribadatan mereka
- dilarang membunuh petani yang tidak mengumumkan perang kepada-mu
- apabila musuh telah menyerah dan tidak mampu lagi berperang, peperangan harus dihentikan dan mereka hanya boleh ditawan. Pembebasan tawanan boleh tanpa syarat atau dengan tebusan atau dengan tukar-menukar tawanan.
Menuju Kematangan Kebangkitan Islam (langkah ke-8)
Dari Sikap Berlebihan dan Meremehkan Menuju Moderatisme
Bentuk-bentuk sikap yang berlebihan:
- Memaksa umat secara keras untuk melaksanakan yang sunnah tanpa memperhatikan keadaan mereka.
- Keras yang bukan pada tempatnya; contoh kasus: beberapa Da’i yang pergi ke Bosnia setelah baru terlepas dari komunisme, pertama-tama yang dilakukan adalah mengajak kaum lelaki untuk memanjangkan jenggot dan menyuruh kaum perempuan untuk mengenakan cadar.
- Keras dan kasar dalam berdakwah; padahal Allah SWT berfirman: ”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)
- Buruk sangka
- Saling mengkafirkan (dengan sesama muslim).
Ciri-ciri moderatisme Islam:
- Berazas kemudahan dan kabar gembira; apabila ada dua pendapat yang sama kuat, sedangkan yang satu lebih berhati-hati dan yang lain lebih mudah maka pilihlah yang lebih mudah. Contoh kasus: orang yang menderita luka bakar sedang junub cukup tayamum.
- Perpaduan antara salafiyah dan pembaharuan; salafiyah adalah kembali kepada pokok, inti dan sumber yaitu Al Quran dan Hadits. Pembaharuan maksudnya menyatu dan mengikuti zaman dan perkembangannya, bebas dari kejumudan dan taklid buta.
- Penyesuaian antara salafiyah dan sufisme; membentuk pribadi muslim ”salaf yang sufi” dan ”sufi yang salaf”.
- Tengah-tengah antara Zhahiriyah dan Muawwilah (Takwil); antara sikap yang kaku dalam melihat zhahir nash dan sikap berlebihan dalam menakwil teks-teks agama.
- Melihat dan memperhatikan realita
- Toleran dan hidup berdampingan dengan sesama
- Berlandaskan syura dan memberi kebebasan kepada masyarakat
- Menempatkan perempuan sebagai ”saudara kembar” laki-laki; Menjaga kehormatan perempuan dari kungkungan tradisi timur dan dari usaha-usaha tradisi barat yang hendak menghilangkan identitas ”ke-perempuan-an”.
- Menghidupkan kembali Ijtihad.